World · 13 Juli 2026
Kerja Sama Tim di Langit Membawa Tiga Korban Selamat Helikopter Pulang dari Hutan Papua
Awak helikopter dan petugas tanggap darurat melakukan penyelamatan udara setelah tiga orang terluka dalam kecelakaan di dalam hutan lebat Papua. Peralatan khusus, perencanaan yang matang dan koordinasi yang erat memungkinkan tim untuk menjangkau para penyintas di mana pendaratan helikopter biasa tidak mungkin dilakukan.
By PT Freeport Indonesia
Ketika sebuah helikopter menghilang di atas hutan Papua, medan yang memisahkan penumpangnya dari tempat aman hampir sama sulitnya dengan kecelakaan itu sendiri. Namun gabungan kelompok pilot, spesialis darurat, dan personel medis mengubah situasi sulit menjadi penyelamatan yang sukses.
Pesawat yang dioperasikan PT National Utility Helicopters itu sedang mengangkut makanan dan perbekalan lainnya, namun hilang kontak pada pukul 10.16 waktu setempat pada 17 September 2020. Petugas pencari kemudian menemukan lokasi jatuhnya pesawat sekitar 120 kilometer dari bandara Timika.
Ketiga orang yang berada di dalamnya selamat, namun helikopter tersebut jatuh di tengah pepohonan lebat. Hutan di sekitarnya tidak memberikan tempat yang aman bagi pesawat penyelamat untuk mendarat.
Penyelamatan dari Atas
Divisi penerbangan PT Freeport Indonesia memiliki akses terhadap helikopter yang dilengkapi sistem pengangkat—peralatan khusus yang mampu menurunkan penyelamat dan mengangkat korban saat pesawat masih mengudara.
Respons bersama dilakukan dengan melibatkan PT HeliSGI, PTFI Aviation, personel darurat dari Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dan SOS Internasional. Sebelum berangkat, tim mengevaluasi bahaya misi dan menunggu cuaca yang sesuai.
Awak pesawat antara lain Kapten Mark Nissen, First Officer Yohannes Saputra, Helicopter Landing Officer Marman Tuharea dan Flight Engineer Ojan Wiharta. Petugas tanggap darurat Hein Rumbino dan Indra Yoom bergabung dengan paramedis senior Anton Saputra untuk operasi tersebut.
Setelah melewati lokasi kecelakaan, helikopter penyelamat mempertahankan posisinya kira-kira 30 meter di atas hutan. Rumbino, yang memanfaatkan pengalaman tanggap darurat selama lebih dari satu dekade, turun bersama Saputra menuju reruntuhan.
Salah satu korban selamat dapat berkomunikasi dengan regu pencari awal. Dua orang lainnya—termasuk kapten helikopter—dalam keadaan sadar tetapi terjebak di dalam pesawat yang rusak. Rumbino membantu membebaskan mereka dan memindahkan mereka ke lokasi yang lebih aman, sehingga Saputra dapat menilai luka-luka mereka dan memberikan pertolongan pertama.
Membersihkan Jalan Melalui Hutan
Dua korban selamat yang terluka parah bersiap terlebih dahulu untuk dievakuasi. Masing-masing diangkat dengan cara dikerekan ke dalam helikopter yang melayang dan diangkut ke personel darurat yang menunggu di tempat lain.
Tumbuhan di sekitar reruntuhan mempersulit operasi. Rumbino menggunakan gergaji mesin untuk menebang beberapa pohon dan memberikan awak pesawat pandangan yang lebih jelas tentang penyelamat dan penyintas di bawah.
Korban selamat ketiga mengalami patah lengan dan menjadi ketakutan ketika tiba gilirannya untuk diangkat. Rumbino dengan tenang membimbingnya melalui proses tersebut, mengingatkannya bahwa pesawat akan segera membawanya keluar dari hutan dan kembali ke keluarganya.
Kepastiannya berhasil. Korban selamat terakhir diamankan, diangkat dari lokasi kecelakaan dan dibawa dengan selamat ke dalam pesawat.
Pelatihan Berubah menjadi Aksi
Penyelamatan ini menunjukkan bagaimana peralatan khusus menjadi sangat berharga bila didukung oleh pengalaman, persiapan, dan kepercayaan. Pilot harus tetap melayang di atas medan yang sulit sementara petugas tanggap bekerja di bawah mereka, dan personel medis harus mengevaluasi korban yang terluka di lingkungan yang terisolasi.
Bagi paramedis senior Anton Saputra, operasi tersebut memiliki makna tambahan: ini menjadi misi terakhirnya sebelum pensiun. Latihan bertahun-tahun dan penugasan darurat mencapai puncaknya dengan keberhasilan penyelamatan yang dimungkinkan oleh kerja sama di beberapa organisasi.
Apa yang dimulai sebagai kecelakaan berbahaya di hutan yang tidak dapat diakses berakhir dengan ketiga penghuninya menerima perawatan yang mereka butuhkan. Misi ini menjadi pengingat bahwa persiapan yang matang dan tindakan yang terkoordinasi dapat menciptakan jalan menuju keselamatan—bahkan ketika tampaknya tidak ada jalan keluar.